©2025 All Rights Reserved. Developed by act! Digital Agency
Ribuan sopir truk dari berbagai daerah kembali menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran. Mereka menuntut revisi kebijakan Zero ODOL (Over Dimension and Over Loading), penetapan tarif angkutan barang yang lebih adil, serta peningkatan kesejahteraan dan perlindungan kerja bagi sopir.
Aksi ini berlangsung serentak di beberapa titik logistik strategis seperti Pelabuhan Tanjung Priok, Gerbang Tol Cikampek, dan jalur distribusi utama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera.
Para sopir menyampaikan bahwa tuntutan ini bukan semata kepentingan pribadi, tapi menyangkut nasib pelaku usaha transportasi kecil dan menengah. Berikut penjelasan tuntutan mereka:
Para pengemudi merasa aturan Zero ODOL terlalu mendadak dan belum diimbangi dengan kesiapan armada dan infrastruktur.
“Kami pakai truk modifikasi sejak lama. Kalau dilarang mendadak, kami tidak bisa kerja,” ujar Rendi, sopir truk asal Bekasi.
Mereka meminta pendekatan bertahap, insentif konversi armada, dan waktu adaptasi yang realistis.
Kenaikan harga BBM, biaya operasional, dan tekanan pengusaha membuat pendapatan sopir tergerus.
“Beban kerja tinggi, tapi tarif makin ditekan. Kami tak bisa bertahan,” kata Asosiasi Sopir Logistik Mandiri.
Mereka menuntut regulasi tarif dasar atau mekanisme penetapan tarif minimum yang adil dan transparan.
Sopir truk meminta:
Jaminan kesehatan dan kecelakaan kerja
Sistem kontrak yang adil
Perlindungan hukum saat terjadi konflik kerja atau kecelakaan lalu lintas
Pihak Kementerian Perhubungan menyatakan siap berdialog dan menampung aspirasi sopir.
“Kami memahami keresahan di lapangan. Tapi ODOL diterapkan demi keselamatan dan infrastruktur jalan,” ujar juru bicara Ditjen Perhubungan Darat.
Sementara itu, Kementerian Ketenagakerjaan dan BUMN sedang mengkaji skema perlindungan sosial bagi sektor informal seperti sopir angkutan barang.
Aksi ini menyebabkan keterlambatan pengiriman barang di beberapa wilayah industri. Beberapa pelaku usaha mengeluhkan naiknya ongkos operasional akibat minimnya armada legal yang tersedia.
Jika tidak ditangani segera, gangguan ini bisa berdampak pada distribusi bahan pokok, industri manufaktur, dan logistik nasional.
Aksi sopir truk yang menuntut revisi aturan ODOL, tarif angkutan adil, dan kesejahteraan kerja mencerminkan realita sulit yang mereka hadapi di lapangan. Pemerintah perlu menyeimbangkan keselamatan dan keberlanjutan ekonomi sektor logistik.
Solusi jangka panjang seperti subsidi armada standar, regulasi tarif transparan, dan perlindungan sosial formal akan jadi kunci menciptakan ekosistem transportasi yang adil dan berkelanjutan.
PT Valar Truk Solusi
Jl. Sukarjo Wiryopranoto No. 55A
Jakarta Barat
©2025 All Rights Reserved. Developed by act! Digital Agency